Kategori
Fashion Zaman Dulu

Tren Fashion Perancis Di Masa Lampau

Tren Fashion Perancis Di Masa Lampau – Jika kita sedang berbicara tentang mode fashion yang anggun nan mewah yang disulam, berenda, serta dijahit dengan pola yang rumit dengan mengenakan rok atau bahkan dress yang mengembang, dan tidak ketinggalan “wig” berwarna gelap atau hitam pasti akan senantiasa teringat dengan negara-negara di Eropa, atau lebih tepatnya di Prancis yang merupakan negara yang bisa dibilang paling modis sejak dahulu kala sampai saat ini.

Pada zaman dahulu, Perancis dikenal dengan mode rambut lelakinya yang memiliki bentuk ikal panjang dan kaum wanitanya dengan rambut wig yang sengaja ditata sangat tinggi keatas untuk menunjukkan strata sosialnya yang berada dari kelas tinggi atau kaum berada.

fashion perancis masa lampau

Hal ini dikarenakan pada era itu terkenal dengan istilah “semakin tinggi wigmu maka semakin tinggilah derajatmu”. Hal ini kemungkinan besar dikarenakan mahalnya harga “wig” di masa itu sesuai dengan kualitas dan mutunya. Pada masa itu sendiri wig yang paling kontroversional dan terkenal pertama kali diperkenalkan oleh Ratu Marie Antoinette, yang juga dikenal sebagai Sang Ratu Fashion Dunia Pertama. Beberapa trend Fashion Perancis Di Masa Lampau bahkan merambah sampai ke Inggris atau Britania Raya.

Hingga akhirnya pada masa kepemimpinan Raja Louis XIV, fashion menjadi lambang kekayaan para bangswawan. Terlihat dari keterlibatan sang Raja dalam menetapkan mode berbusana, corak pakaian sampai ke jenis kain yang boleh dipergunakan di acara, waktu, dan musim yang tertentu. Sehingga fashion menyebabkan kesenjangan sosial pada era tersebut, dengan adanya perbedaan yang besar antara golongan “borjuis” dan “proletar”

Pada masa ini dikenal trend “Baroque” yang menguasai aspek sosial budaya kaum Borjuis. Tren ini memiliki karakteristik utama berupa kemewahan pada ornamen yang dijatit bersatu dengan pakaian sehingga perhiasan tambahan pada baju tidak lagi diperlukan.

Gaun Kaum Aristokrat wanita lebih mengembang pada komponen rok dan lengan dengan mengaplikasikan “Petticoat” atau dalaman rok sebanyak-banyaknya sampai delapan lapis sehingga tercipta efek menggembung yang elegan. Satin sutra berat yaitu bahan yang paling utama pada masa “baroque”

Adapun kaum lelaki gadunslot pada masa ini lebih berkembang dalam hal mode berpakaian. Baju mereka bisa dihiasi dengan renda, rumbai dan pita yang berjumlah ratusan. Keseluruhan baju bagus pria dan wanita mesti diciptakan dalam warna yang jelas/tua “pigmented”, kain berwarna yaitu simbol kemewahan. Penerapan “wig’ yang lebih alami ialah berwarna gelap atau hitam (pantas warna rambut) dan Panjang bagi Kaum pria. Dari hal gaya berbusana ini lah yang menyebabkan perbedaan kontras bagi “Kaum Borjuis” dan “Proletar” pada masa itu.

Kategori
Fashion Zaman Dulu

Crinoline, Gaun Mewah Era Victoria Yang Menyiksa

Crinoline, Gaun Mewah Era Victoria Yang Menyiksa – Tentunya di setiap zaman memiliki fakta menarik yang belum banyak diketahui oleh sebagaian orang. Banyak sekali sejarah beserta fakta unik tentang suatu zaman yang tentunya sangat menarik untuk diketahui, agar dapat menambah pengetahuan.

Pada kesempatan kali ini kami akan membahas tentang fakta unik tentang fashion di Era Victoria. Era Victoria sendiri dalam sejarah Britania Raya adalah era dimana periode pemerintahan Ratu Victoria dari 20 Juni 1837 hingga kematian sang ratu di awal Januari 1901. Di era ini, pakaian para wanitanya sangat menonjolkan sisi feminin dan sengaja dirancang untuk memperlihatkan pinggang para wanita Inggris yang kecil.

Sehingga penggunaan crinoline tren fashion era victoria yang mirip dengan kurungan ayam pun menjadi hal yang umum digunakan para wanita di Era Victoria, agar wanita yang memakainya terlihat lebih anggun dengan badan yang ramping.

Crinoline adalah sejenis rok dalaman atau petticoat yang merupakan tren fashion era victoria dan biasa digunakan di bawah gaun yang terbuat dari rambut kuda. Dibilang mirip dengan kurungan ayam karena crinoline yang seharusnya berfungsi sebagai pakaian dalam ini, memiliki bentuk seperti rangka karena memiliki struktur yang sangat kaku. Namun pada perkembangannya, rambut kuda mulai digantikan dengan bahan katun yang dipadatkan, lalu diganti dengan bahan metal yang benar-benar berbentuk seperti “kandang”.

Crinoline, Era Victoria

Biasanya crinoline ini digunakan di bawah rok dalaman yang nantinya akan dilapis lagi dengan gaun dengan variasi model dan bahan. Mulai dari bordir, renda, hingga hiasan pita warna-warni. Sehingga membuat siapapun yang menggunakan gaun seperti ini akan terlihat lebih cantik dan ramping karena memiliki desain bagian atas gaun sampai pinggang yang dibuat menyerupai seperti jam pasir.

Namun, terlepas dari keanggunan yang terpancar pada wanita yang mengenakan crinoline. Gaya busana wanita era Victoria ini juga terkenal dengan sebutan “dressed to kill”. Hal ini dikarenakan sebenarnya para wanita ini harus membayar lebih demi membuat orang lain terkesan, yakni dengan merasa begitu tersiksanya mengenakan crinoline ini. Sampai-sampai bisa membuat pemakainya terbunuh oleh item fashion trendy ini pada masanya.

Bahkan, sejarah mencatat sudah lebih dari 3.000 wanita yang harus merenggang nyawa akibat dari pemakaian crinoline ini.

Karena pada dasarnya, pada era ini kebanyakan wanita masih sering mengabaikan kenyamanan dari apa yang mereka kenakan karena terlalu dilanda oleh wabah Crinolinemania yang mana semua orang tergila-gila dengan crinoline ini. Bisa dibilang, mereka lebih menginginkan orang-orang terpikat dan mendapatkan perhatian dari semua orang sampai-sampai tidak memikirkan ketidaknyamanan penggunaan crinoline ini.

Kekurangan lainnya dari tren di era victoria ini adalah, gaun ini mudah terbakar. Sehingga penggunaan gaun ini saat mentari sedang terik-teriknya maka sama saja seperti sedang bunuh diri. Belum lagi saat pakaian ini terkena percikan api, api akan mudah menjalar ke seluruh gaun dan sudah banyak wanita yang terluka parah bahkan terbakar hidup-hidup.

Atau karena modelnya yang terlalu rumit dan agak berat, tidak sedikit crinoline yang tersangkut pada roda kereta kuda saat digunakan. Masih banyak tragedi horror lainnya yang terjadi akibat pemujaan yang berlebihan terhadap crinoline ini.

Beruntungnya para wanita yang hidup di zaman sekarang karena crinoline sudah bukan lagi menjadi tren fashion wajib yang harus dikenakan oleh wanita dan juga permainan slot online sudah dapat mudah untuk diakses di gadunslot kapanpun dan dimanapun. Sehingga tidak perlu merasakan betapa tersiksanya penggunaan crinoline.

Kategori
Fashion Zaman Dulu

Sejarah Gaya Lolita Yang Booming Sejak Akhir Tahun 1990

Gaya Lolita merupakan subkultur jepang yang memiliki ciri khas pada gaun yang penuh dengan hiasan kerut serta renda layaknya busana anak-anak perempuan yang ramai akan dekorasi nan imut. Pada dasarnya, busana Lolita ini terinspirasi dari elemen-elemen fashion era Roccoco asal Perancis dan era Victoria Inggris.

Roccoco sendiri berasal dari 2 suku kata dalam bahasa Prancis yaitu “Rocaille” yang memiliki arti batu dan “Coquilles” yang berarti bentuk yang tidak teratur. Awalnya trend fashion dengan menggunakan gaun mewah ini dipopulerkan oleh Madame Pompadour yang merupakan seorang selir sang raja. Madame Pompadour sangat menyukai detail dan motif bunga yang ramai dan juga pemakaian warna-warna pastel cerah untuk menandakan keceriaan dan membuat ia nampak lebih energik saat menggunakannya. Sama persis dengan apa yang menjadi konsep awal busana Lolita yang dipenuhi dengan warna warna pastel nan manis.

Hingga pada akhirnya tren fashion era Roccoco ini pun diadaptasi oleh bangsawan negara Britania Raya pada era Victoria Inggris, masih dengan menggunakan gaun megar namun pada era ini pemilihan warnanya lebih gelap dibandingkan dengan di Perancis saat itu.

Gaya Lolita ini juga dibagi lagi menjadi beberapa tipe, diantaranya adalah Classic Lolita (motif floral anggun dan warna netral), Gothic Lolita (pemakaian simbol-simbol ala katedral dan warna gelap), dan terakhir Sweet Lolita (aksesoris terkesan sangat kekanakan dengan warna pastel).

Gothic Lolita

Tren busana Lolita sendiri mulai berkembang di Jepang pada tahun 1990-an sebagai busana jalanan yang sering sekali ditemui di jalan-jalan kota besar seperti Tokyo dan Osaka. Yang ditandai dengan ramainya perbincangan tentang Lolita sebagai subkultur fashion tersendiri di berbagai majalah Jepang. Pada akhir 90-an ini juga lah ide Gothic Lolita pertama kali tercetus yang terinspirasi oleh tren Visual Kei yang saat itu juga sedang naik daun.

Sesaat setelah dunia memasukin milenium baru, film besutan Jepang berjudul Kamikaze Girls meledak, dimana pemeran protagonis di film itu menggunakan busana ala Lolita lengkap dengan pita dan payung berwarna senada dengan gaunnya. Hal ini lah yang membuat pemakaian busana lolita menjadi situs slot terpercaya meningkat drastis di kota-kota besar di Jepang, hingga menjadi hal yang wajar melihat wanita berpakaian ala Lolita di jalan Harajuku.

Sebagai kesimpulan, Tren Gaya Lolita ini berasal dari perpaduan antara tren gaya di Era Roccoco dan Victoria Britain yang kemudian bercampur dengan citra ala-ala putri raja yang berada di buku cerita dongeng anak-anak. Lolita sendiri di Jepang bisa diartikan sebagai wanita yang sebenarnya sudah dewasa namun masih berparas dan memiliki perilaku seperti anak-anak.